Mereka yang Digdaya namun tak Berdaya (1)

Jakarta, 26-28 Oktober 1928, melalui Kongres Pemuda II telah dilahirkan sebuah instrumen monumental yang menjadi cikal bakal berdirinya bangsa dan negara yang hingga sampai saat ini kita sebut Indonesia. Kongres pemuda II yang dipelopori oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) ini adalah gebrakan dari kalangan menengah kala itu yang menandai bangkitnya kaum terpelajar, intelektual, mahasiswa dan para aktivis muda. Dilatarbelakangi oleh kekecewaan akan kekuatan perjuangan di Indonesia, para kalangan menengah membentuk Sumpah Pemuda sebagai alat pemersatu perjuangan.

Meskipun berasal dari keluarga mapan, terpelajar dan masih muda,merka kalangan menengah seperti Sugondo Djojopuspito, Muhammad Yamin, Amir Syarifudin dan para pemuda lainnya memilih jalan yang tidak mudah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  Mereka berusaha mempersatukan perjuangan bangsa Indonesia saat itu yang dalam praktiknya masih bersifat kedaerahan. Langkah mereka tidaklah semulus dan semudah seperti saat sejarah menceritakannya, sosok penjajah yang terlihat sangat besar selalu menghalangi perjuangan kalangan menengah, nyawa pun menjadi taruhannya. Namun perjuangan mereka terbayar dengan berdirinya sebuah bangsa dan negara Indonesia.

Pasang surut sejarah Indonesia baik di bidang ekonomi, politik dan sosial budaya juga tidak terlepas dari keterlibatan kalangan menengah. Memang di belahan bumi manapun kalangan menengah akan selalu menyandang status sosial sebagai pembaharu sekaligus pelopor perubahan. Seperti yang sering kita dengarkan tentang betapa digdayanya kekuatan kalangan muda yang mempelopori peralihan orde baru ke era reformasi. Kala itu kalangan menengah menjadi komponen terpenting yang terlibat dalam menggulingkan pemerintahan orde baru yang syarat akan kecurangan-kecurangan di segala bidang.

Begitu besar pengaruh kalangan menengah dulu hingga masa reformasi, namun sejatinya siapakah yang dimaksud kelas menengah itu? Sosiolog John Goldthorpe yang melakukan penelitian di Asia Tenggara dengan melibatkan Indonesia, Filipina, Thailand dan Malaysia pada tahun 1996-1997 membagi masyarakat dalam 3 kelompok besar, yaitu kelas atas, menengah, dan pekerja. Pembagian ini dilakukan berdasarkan pemilahan sosial atas dasar pekerjaan menyempurnakan teori sebelumnya yang dikeluarkan oleh Karl Marx (1867) yang membagi masyarakat ke dalam 2 kelas, majikan/bojuis dan buruh/proletar.

Untuk lebih memahami tentang siapa yang dimaksud kalangan menengah kita bisa mengikuti standar kategorisasi Bank Dunia yang membuat kriteria penggolongan berdasarkan prilaku konsumtifnya. Pengeluaran per hari di bawah 2 USD dalam penelitian ini digolongkan sebagai kelas miskin atau sangat bawah, 2-4 USD kelas bawah, 4-10 USD kelas menengah, 10-20 USD mencerminkan kelas menengah atas, dan di atas 20 USD mewakili kelas atas. Atau jika dirupiahkan yang dimaksud sebagai kalangan menengah adalah mereka yang membelanjakan uang sekitar Rp. 40.000 hingga Rp. 100.000 untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Kelas menengah mencerminkan sebuah strata yang secara sosial ekonomi belum cukup kuat. Mereka dicirikan oleh rata-rata pendidikannya yang setingkat SMA dengan penghasilan sekitar Rp. 1,9 juta dan pengeluaran Rp. 750.000-
Rp. 1,9 juta per bulan. (1) Kalangan menengah adalah mereka yang dicirikan lebih sering pergi ke mal dibandingkan kelas bawah dan memiliki waktu luang lebih banyak dibandingkan kelas menengah atas. Kelas menengah digambarkan kepada mereka yang lebih mawas tentang tekhnologi dan memiliki wawasan yang luas terhadap pemberitaan-pemberitaan terbaru.

Dalam studi Bank Dunia menyebutkan kelas menengah Indonesia saat ini mencapai 56,5 persen dari 237 juta penduduk atau tumbuh 6 persen dari tahun 2003 yang hanya mencapai 81 juta jiwa masyarakat kelas menengah. Dengan jumlah yang tidak sedikit ini tidak heran jika sebenarnya mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

(1)Bambang Setiawan, “Siapa Kelas Menengah Indonesia?”, Kompas, 8 Juni 2012, hlm. 7.

Leave a Reply