Ayo Level Up (bagian ketiga)

Kita lanjutkan pembahasan kita yang sebelumnya. Pada pembahasan sebelumnya, kita telah membahas empat dari tujuh achievement yang kudu kita achieve. Yaitu achieve zona baru, achieve cahaya, achieve jam tangan, dan achieve dendang. Dimana kita harus memperluas pikiran dan perasaan kita guna peningkatan kekuatan untuk menghadapi tantangan. Kemudian, dimana kita harus melakukan perjelasan pada diri kita guna peningkatan pertahanan untuk bertahan dari serangan tantangan. Lalu, dimana kita harus belajar dari masa lalu. Serta dimana kita harus berdamai ria. Anda pasti mengerti. Baiklah, sekarang, mari kita sambung.

5. Katakanlah, “Selamat Hari Kebalikan!”

Ini artinya, sesekali, keluarlah dari ritunitas Anda. Terkadang, rutinitas menghambat pertumbuhan kita. Terkadang sih. Misalna? Hm, saya langsung sebutkan satu hal rutinitas penghambat nyata pertumbuhan kita. Hal apa itu? Yaitu hal dimana banyak orang yang ingin mencari kerja, tanpa sama sekali ingin berwirausaha. Pastinya, bekerja atau berwirausaha adalah hak setiap orang. Tetapi, kalau sebagian besar penduduk seperti itu, bagaimana negara bisa maju?

Terkadang iya, kita ini berdiri di paling depan dan marah kalau Indonesia kurang dihargai, atau melihat kekacauan Indonesia di berita. Namum, tidak ada bukti nyata bahwa dia benar-benar peduli. Tanda peduli itu tidak hanya sekedar berkata “kasihan”, tetapi kita juga melakukan sesuatu sebagai bentuk kita kasihan. Mirip dengan seseorang yang berkata “Aku sayang padamu” kepada pacarnya. Bisa saja aksinya tidak sama dengan kata-katanya. Sedangkan mungkin ada orang lain yang benar-benar sayang kepadanya tanpa mengatakannya.

Jadi, itu tadi satu iya. Jangan berniat sekadar untuk mencari pekerjaan, tapi berniatlah untuk membuka lapangan pekerjaan. Lagi, terkadang kita ini merasa yang penting jika keluarga sudah bisa makan saja itu sudah cukup. Anak sudah bisa sekolah saja itu sudah bagus. Memang sih, tapi, padahal, apabila kita memiliki ekonomi berlebih, ada baiknya kita juga bertanya, apa tetangga kita sudah makan? Apa anak mereka sekolah juga nggak iya?

Itulah salah satu tanda Anda sudah levep up yang cukup konkrit. Yaitu pekerjaannya tidak hanya sekedar untuk mencukupkan keluarga saja, tapi juga berusaha untuk mencukupkan sesama. Kalau pun sekarang belum bisa, niatkan saja dulu. Berdoalah semoga nanti kita bisa seperti itu. Kemudian, biasanya kita pergi ke Sekolah, atau Kampus gitu iya. Kita berkata bahwa kita pergi ke sana itu untuk mencari ilmu. Padahal, sebagian orang yang bilang begitu sebenarnya dusta.

Tahu kenapa mereka berdusta? Karena sebetulnya mereka bukan menuntut ilmu, tetapi mereka menuntut ijazah dan gelar. Coba, kalau memang benar-benar menuntut ilmu, bersedihlah bila Anda tidak bisa mendapatkan ilmu yang cukup serta tidak cukup banyak mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari. Serta, coba setelah tamat kuliah, bakarlah ijazah Anda, juga sembunyikanlah gelar Anda. Itulah tanda bahwa Anda benar-benar menuntut ilmu. Memang sih, mendapatkan ilmu, ijazah, dan gelar, dan semuanya dari sana tetaplah hal yang teramat patut disyukuri.

Lagi, bagi siapa yang suka mentraktir makan teman-teman dan keluarga seandainya nanti lulus ujian, proyek berhasil, masalah lancar, itu dibalik caranya. Coba, jangan tunggu target kelar dulu baru mentraktir, tapi traktir saja dulu, semoga nanti targetnya lebih baik dan lebih cepat kelar. Kan Nabi pernah mengajarkan kepada kita bahwa, “‘Belilah’ semua kesulitanmu dengan sedekah.”

Terus, jangan menunggu termotivasi baru bergerak. Tapi coba saja dulu bergerak, maka kita akan termotivasi. Dan jangan menunggu terinspirasi baru memulai, tetapi mulai sajalah, maka kita akan terinspirasi. Pun jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi mencintailah, maka kita akan dicintai. Lalu, jangan menunggu dapat dulu baru bersyukur, tetapi bersyukur saja dulu, toh Allah sudah berjanji apabila kita bersyukur maka nikmat kita akan ditambah. Iya, Anda boleh membolak-balikkan sesuatu lainnya yang dapat memudahkan kehidupan Anda dan menguatkan diri Anda.

6. Temukanlah Batu di Balik Udang dan Udang di Balik Batu

Nah, satu lagi komponen penghambat peningkatan kita sekaligus pelejit peningkatan kita. Sebelumnya, ngomong-ngomong, Anda kali sering mendengar kalimat, “Terima apa adanya.” Nah, kalimat sweet ini tidak jarang disalah pahami. Begini, seandainya saya disini menuliskan kata-kata kasar dan menghina Anda, berarti Anda harus menerima saya apa adanya ini untuk selama-lamanya. Mau? Tidak mau bukan?

Kesalahpahamannya ada dua. Pertama, mereka menerima apa adanya satu hal itu untuk selama-lamanya. Mereka lupa dengan kalimat, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini.” Bahkan agama saja mengajarkan hal tersebut. So, bila hari ini begitu, iya terimalah begitu, namun, pada waktu yang kemudian, yang ada itu haruslah meningkat. Bila tidak meningkat, hal itu akan dikalahkan oleh hal-hal lain yang sudah meningkat. Sehingga, yang memakai prinsip “Terima apa adanya” itu sudah tidak ada lagi. Jadinya berubah menjadi “Terima ketidakadaan ini.”

Kemudian, kesalahpahaman yang kedua, yaitu banyak orang yang berpikir bahwa “Terima apa adanya” itu sama dengan “Beri apa adanya.” Padahal, maksudnya terima apa adanya itu adalah kita harus menerima orang itu apa adanya. Namun, kita jangan mau membuat orang lain itu menerima sesuatu dari kita apa adanya saja. Kan ada istilahnya, “Berikanlah yang terbaik.” Menurut saya, memberikan lebih dari apa adanya itu sama dengan kerja keras.

Misal, bila di hari ulang tahun saya, saya diberikan permen karet oleh si A. Iya saya terima saja apa yang diberikannya itu apa adanya. Tapi, lain kali, kalau si A ulang tahun, saya tidak boleh memberikan dia apa adanya juga. Saya harus memberi dia lebih dari apa adanya. Contoh lagi, Bila si A sedang makan roti, namun dia hanya memberikan secuil potong, iya saya terima saja yang diberikannya itu apa adanya. Tapi, lain kali, kalau saya punya roti, saya tidak boleh memberikan dia apa adahanya juga. Saya harus memberi dia lebih dari apa adanya.

Ini penting untuk diketahui. Karena sebetulnya terima apa adanya itu sama dengan pasrah. Dan pasrah adalah satu komponen dalam ikhtiar untuk mewujudkan satu tujuan. Soalnya orang sering salah paham tentang pasrah ini, katanya kita tidak boleh pasrah. Padahal pasrah itu wajib. Sekali lagi, pasrah itu wajib.

Baiklah. Saya rasa cukup sekian dulu. Masih ada pembahasan berikutnya, insya Allah akan diselesaikan pada artikel berikutnya. Sembari menunggu, sebaiknya kita banyak-banyak perhatikan dulu soal perayaan hari kebalikan dan perbaikan konsep pasrah ini. Semoga dengan diiringi jurus berikutnya, kehidupan kita bisa semakin sangat membaik. Oke, stay tuned!

Leave a Reply