Let’s Judge the Book by It’s Cover

Pada suatu hari, saya baru saja berteman dengan seseorang di facebook. Kemudian saya datengin profilnya. Ketika saya melihat info di profilnya, saya melihat kutipan favoritnya adalah, “Don’t judge the book by it’s cover!” Di lain waktu, ketika saya berinteraksi dengannya, dia menganggap remeh sesuatu aspek dari saya. Katanya sesuatu aspek itu jelek. Padahal, banyak orang yang suka terhadap sesuatu aspek tersebut. Barangkali, karena pada saat itu sesuatu aspek itu memang sedang tidak seperti biasanya. Misalnya sedang bau dan jorok begitu. Jadi dia menilai sesuatu aspek itu dari penampilannya pada hari itu saja. Padahal kan kalau di hari lain, sesuatu aspek itu biasanya bagus.

let's judge the book by it's coverNah, perhatikan watak teman baru saya tadi. Dia adalah tipe orang yang menilai seseorang dan sesuatu dari penampilannya. Padahal, dia punya kutipan favorit, “Don’t judge the book by it’s cover!” yang manifaestasinya adalah jangan menilai seseorang dan sesuatu dari penampilannya saja. Berarti dia tidak sungguh-sungguh menganut ilmu dari kutipan favoritnya dong?

Sebetulnya, saya perhatikan, mayoritas orang itu memang selalu menilai seseorang dan sesuatu dari penampilannya. Sebelum tulisan ini saya tulis, saya kerap membahas hal ini dengan teman-teman saya lainnya. Dan mereka memang terasa, begitu banyak orang yang bersikeras, “Jangan menilai seseorang dan sesuatu dari penampilanya dong! Aslinya kan aku nggak begini!” padahal dia sendiri juga sering menilai seseorang dan sesuatu dari penampilannya saja.

Sekarang, saya tanya Anda. Apa Anda juga mempunyai pengalaman yang demikian? Apakah Anda pernah melihat ada orang yang tidak suka bila dirinya dinilai dari penampilannya saja padahal dia sendiri juga menilai orang dari penampilan orang itu? Atau, jangan-jangan Anda sendiri punya sikap yang seperti itu? Rasa-rasanya kemungkinan besar Anda memiliki pengalaman yang demikian. Tidak apa-apa kok. Serius! Solusinya akan kita dapatkan nanti. Teruslah membaca.

Sebab awalnya begini, kita itu suka menilai diri kita ini seperti apa dengan cara melihat apa-apa saja yang kita pikirkan. Sedangkan orang lain itu suka menilai diri kita ini seperti ada dengan cara melihat apa-apa saja yang sudah kita lakukan. Itu sebabnya, kita pernah berpikir, “Aku rasa aku mahir dalam hal itu. Aku tahu aku bisa melakukannya. Lihat saja nanti.” Kemudian ada orang yang tiba-tiba mengkritik kita, “Ah, dasar kamu ini lemah!” Kemudian kita bilang lagi, “Eh, enak saja. Aku tidak payah iyah!”

Nah, perhatikan. Alasan kenapa kita tidak menerima kritik tersebut adalah karena sebetulnya kita ini bukanlah orang yang lemah. Kita bisa melakukannya. Makanya kita tidak terima jika diri kita dikatain orang yang lemah. Kemudian, alasan kenapa orang itu mengkritik kita adalah karena memang orang itu tidak pernah melihat kita melakukan hal tersebut. Iya pantas saja kita dikatakan lemah.

Tenang saja, tidak perlu salah-salahan. Keduanya sama-sama benar kok! Beneran! Kan sebetulnya kita bisa melakukannya, pastinya kita tidak setuju dong jika kita dikatakan lemah, iya kan? Kan sebetulnya kita hanya berkata “bisa” saja dan memang belum ada melakukan apa-apa, pastinya kita terlihat seperti orang yang lemah. Lantas bagaimana solusinya?

Solusinya adalah hiaslah penampilan diri Anda sendiri sampai penampilan Anda mencerminkan diri Anda. Iyah, itu solusinya. Soalnya kan mana bisa kita memaksa semua orang untuk memahami perasaan kita?

Contohnya  saja, apakah dalam sebuah website ada tulisan, “Pengunjung yang terhormat. Desain website ini memang jelek. Maka dari itu, Anda tidak boleh menilai dari penampilannya saja. Biar penampilannya jelek, tapi isinya bagus loh. Anda harus mengerti perasaan kami. Terima kasih.” Hei, jawab apakah ada?

Contoh lainnya, apakah ada seorang manager berkata, “Kalian tidak perlu membuat produknya kelihatan bagus. Biarkan saja apa adanya. Jelek pun tidak apa-apa. Karena nanti para pelanggan kita tidak menilai produk kita dari penampilannya.” Hei, jawab apakah ada?

Ketika satu siswa dari satu Sekolah sedang membuat onar di luar Sekolah. Kemudian beberapa masyarakat berkata, “Oh, ternyata anak-anak di Sekolah ‘anu’ itu begitu-begitu iya.” Lihat, beberapa masyarakat menilai satu Sekolah itu dari penampilannya saja.

Ketika satu karyawan dari satu perusahaan sedang bad mood, kemudian dia melayani pelanggan dengan tidak ramah, bahkan membentak si pelanggan. Kemudian beberapa pelanggan bercerita, “Karyawan di Perusahaan ‘itu’ lho, pelayanannya sangat tidak bagus!” Lihat, beberapa masyarakat menilai satu Perusahaan itu dari penampilannya saja.

Makanya ada guru yang berkata, “Kita harus bisa menjaga nama baik Sekolah.” Karena guru itu tahu, mayoritas masyarakat akan menilai Sekolah itu seperti apa melalui penampilannya saja.

Makanya ada atas yang berkata, “Kita harus melayani seluruh pelanggan dengan loyal.” Karena atasan itu tahu, mayoritas pelanggan akan bercerita soal detik-detik sebelum dan sesudah mendapatkan suatu produk atau jasa.

Makanya ada kalimat, “Kita itu sebagai polisi harus bisa….” Karena satu polisi itu tahu, banyak masyarakat yang menilai keseluruhan polisi itu seperti apa hanya karena satu polisi saja.

Makanya ada kalimat, “Kamu ini perempuan loh, tidak boleh…” Karena sang penasehat tahu, orang lain akan menilai seperti apa si perempuan sebetulnya hanya karena satu perempuan itu.
Dan lain sebagainya, bisa Anda ingat-ingat masa lalu Anda.

Iya. Jadi itu tadi, saran saya. Usahakanlah agar dalam diri kita sama dengan diri luar kita. Memang persoalan ini pun sering dibahas oleh beberapa ahli psikolog. Memang sudah seharusnya kita begitu. Toh di akhirat nanti, kitalah yang akan bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Iya kan? Jadi memang, secara tidak sadar maupun sadar, begitu banyak orang yang menilai seseorang dan sesuatu itu dari penampilannya. Makanya kita disarankan untuk rapi, bersih, dan berusaha maksimal dalam memperbaiki diri. Agar orang bisa memberikan penilaian yang baik. Begitu pula makanya ada profesi desainer, agar sisi dalam diproyeksikan dan ada sisi luar yang jujur dan komunikatif. Jadi, sekali lagi, usahakanlah agar penampilan luar diri kita itu sama atau mirip dengan sisi dalam kita yang sebetulnya.

Kemudian, ada satu hal penting lagi yang diingat. Ini untuk pribadi masing-masing saja. Kita tidak usah memarahi dan menyiksa orang karena tidak tahu satu hal penting ini. Apakah hal penting itu? Yaitu, meski kita tengah melihat penampilan seseorang atau sesuatu yang jelek, kita tetap harus optimis berpikir bahwa seseorang atau sesuatu itu bagus. Jadi, tetaplah berusaha menghias diri sebaik-baiknya, agar semoga orang-orang bisa melihat kita sebagai orang yang baik. Dan, walaupun ada yang penampilan luarnya jelek, kita tetap harus percaya bahwa sejatinya semua orang itu memiliki sisi baik. Iya, kita harus maklum juga, kan belum tentu semua membaca tulisan ini? Hahahah!

Saya punya pengalaman. Ketika saya bersama dua orang kenalan saya masuk ke sebuah bank yang fenomenal (brandnya tidak saya sebut iya). Saya dilayani dengan tidak ramah oleh seorang Teller. Bahkan, kedua kenalan saya saja juga merasakannya. Soalnya Teller ini memang berbicara dengan nada yang tidak biasa dan merendahkan. Bahkan, ketika kami sudah di luar, dua kenalan saya tadi hampir saja mau bilang, “Sudahlah! Tidak usah jadi saja! Ayo kita cari tempat lain yang lebih baik saja!” Untungnya kenalan saya sabar. Iya, meski begitu, tetap saja kita tidak boleh menilai bank itu buruk hanya karena satu orang yang buruk disana kan?

Sebagai pengingat, jadi, yang harus kita paksakan untuk menghias penampilan luar adalah diri kita sendiri. Soal orang lain, cukup sampaikan saja ilmu ini kepadanya, ingatkan saja dia sekali atau dua kali, bila dia tidak mau, iya biarkan saja. Toh memang kita punya kewajiban untuk menyampaikan suatu kebaikan, walaupun cuma satu ayat. Juga kita tidak boleh memaksa orang untuk mengikuti pemahaman kita, meskipun kita jelas-jelas benar. Tapi kita cuma boleh memaksa diri kita sendiri saja untuk mengikuti kebaikan dan kebenaran. Iyah, singkatnya, berusahalah agar diri kita menerapkan ilmu “Let’s Judge the Book by It’s Cover” ini. Kalau bisa, paksain saja. Sekaligus sampaikanlah ilmu “Let’s Judge the Book by It’s Cover” ini kepada orang juga. Hanya saja, dalam menyampaikan ke orang lain itu, kita tidak boleh memaksa. Sama seperti ketika menyampaikan ilmu “Don’t Judge the Book by It’s Cover.”

Terakhir, saya ingin membantu Anda untuk menghias penampilan luar Anda bisa selaras dengan isi dalam Anda dengan memberikan tips berikut. Semoga dengan tips ini, kita bisa menerima kesan-kesan baik dari sekeliling kita. Begini tipsnya, sederhana saja, jika kita punya niat untuk melakukan dan menciptakan sesuatu yang baik dan hebat, segeralah lakukan hal tersebut. Istilahnya, jangan menunda-nunda! Bila kita punya niat untuk melakukan kebaikan, oke, segera lakukan. Bial terlintas kita punya ide untuk mencipatakan sesuatu yang hebat, oke, segera lakukan. Begitulah. Bersegeralah melakoni rencana Anda. Selagi rencanya itu halal, baik, dan tidak merugikan siapa-siapa, langsung saja lakukan! Jangan tunda satu detik pun! Ingat, orang-orang suka menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Sedangkan kita suka menilai diri kita dari sekedar apa yang kita pikirkan. Ingat, talk less do more. Do more!

Baiklah mari kita semua berharap, semoga dengan mempraktekkan ilmu ini dengan sungguh-sungguh, ikhtiar kita untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan semakin melejit. Dan mudahan-mudahan, kebaikan-kebaikan itu pun dapat kita dapatkan.


Pernah menuliskan salah satunya?

mail teypat it (3), ketika seseorang memaksakan penampilan kepada kita (1), 

4 Responses to “Let’s Judge the Book by It’s Cover”
  1. aimkazuhiko 22/07/2012
    • inoputro 24/07/2012
  2. Abu Arqam 20/07/2012
  3. Dani Siregar 19/07/2012

Leave a Reply