Di Balik Kesulitan yang Kita Alami

Di Balik Kesulitan yang Kita Alami. Sebelumnya, saya ingin mengungkap sebuah fakta yang lucu nih. Begini, saya pernah mengira, bahwa saya adalah seseorang yang mengalami kesulitan yang paling sulit di kehidupan ini. Sampai ada kepikiran buat ngelakukan hal yang tidak-tidak, katakanlah misalnya seperti bunuh diri. Iyah, katakanlah itu masa lalu. Kemudian, di lain waktu, saya pernah bertemu dengan seseorang, dia merasa bahwa dia adalah orang yang mendapatkan kesulitan yang paling menyulitkan yang pernah ada. Bahkan dia juga pernah kepikiran buat ngelakukan hal yang tidak-tidak. Saya merasa prihatin melihatnya. Iyah, katakanlah itu masa lalu. Lalu, di lain waktu, saya pernah melihat seseorang di TV, dia mengungkapkan bahwa dia adalah orang yang mendapatkan kesulitan yang paling menyulitkan yang pernah ada. Bahkan dia juga pernah kepikiran buat ngelakukan hal yang tidak-tidak. Saya merasa prihatin melihatnya. Iyah, katakanlah itu masa lalu.

menghadapi sebuah masalahSekarang, saya tanya, apa Anda juga pernah kepikiran demikian? Pernah? Hahaha! Saya rasa ini cukup lucu. Baiklah, kali ini kita akan membahas apa-apa yang tersirat dari kisah kita bersama barusan. Semua orang pasti memiliki masing-masing kesulitan, semua orang juga tahu ini. Yang lucunya, masing-masing dari kita merasa bahwa dirinya sendirilah orang yang memiliki masalah paling besar daripada orang-orang lainnya yang ada di kehidupannya. Ayo jujur, benar ‘kan?

Sejatinya kita semua sangat mengerti sebuah konsep dimana ketika kita di akhirat kelak, kita akan mempertanggungjawabkan kehidupan kita sendiri. Dengan kata lain, secara sadar maupun tidak, kita menganggap bahwa diri kita ini adalah tokoh utama di kehidupan kita masing-masing. Karena kita menganggap diri kita adalah si tokoh utamanyalah makanya kita menganggap bahwa kesulitan kitalah yang paling besar. Betul.

Oleh karena itu, ada dua macam manusia di dunia ini. Yaitu manusia yang ‘menyulitkan’ dirinya sendiri dan manusia yang menyulitkan orang lain. Manusia yang ‘menyulitkan’ dirinya sendiri adalah manusia yang menarik. Masihkah Anda ingat pembahasan kita sebelumnya yang berjudul Cara Menjadi Pribadi yang Menarik? Dimana kita membahas salah satu cara menjadi pribadi yang menarik adalah dengan cara ‘menyulitkan’ diri sendiri. Bila tidak, ada baiknya Anda baca dahulu artikel tersebut. Lanjut, sedangkan manusia yang menyulitkan orang lain adalah manusia yang tidak menarik. Oia, sekedar mengingatkan, ‘menyulitkan’ dengan menyulitkan itu berbeda iya. Yang satu pakai tanda petik, yang satu lagi biasa saja. Lagi, ‘menyulitkan’ disini konotasi, nanti artinnya bisa berubah, yakni berubah menjadi ‘memudahkan’. Dengan kata lain, dengan cara ‘menyulitkan’ diri sendiri kita dapat memudahkan diri sendiri.

Kita ketahui bersama, yang namanya kesulitan ini relatif. Ada kesulitan yang permanen. Dan ada kesulitan yang sementara. Ada orang hanya menerima kesulitan secara mentah-mentah tanpa tahu kesulitannya itu mau diapakan. Sehingga kesulitan yang diterimanya hanya akan menjadi kesulitan selamanya. Dan ada pula orang yang ketika menerima kesulitan, mereka mengolah kesulitan itu, sehingga berubah menjadi kemudahan. Sedangkan orang yang belum pernah menerima kesulitan sama sekali terheran-heran, “Bagaimana bisa orang menerima kesulitan yang sama, tetapi kemudian sebagian kesulitan itu berubah menjadi kemudahan? Sebenarnya dibalik kesulitan ada apa iya?”

Sebenarnya, dibalik kesulitan itu ada dua hal. Yaitu kemudahan dan kesulitan². Untuk mengubah kesulitan menjadi kesulitan² ada banyak caranya. Seperti mengeluh, menyerah, berdiam diri, dan sebagainya. Sedangkan untuk mengubah kesulitan menjadi mudahan hanyalah satu caranya, yaitu berhusnudzon. Kalau ada orang yang mengatakan cara lain, sebenarnya apa yang dikatakannya hanyalah sinonimnya saja.

Baiklah, sekarang mari kita berlatih. Betul, berlatih membalik kesulitan. Apakah Anda akan membalik kesulitan tersebut menjadi kemudahan atau menjadi kesulitan²? Silahkan pilih satu pilihan diantara dua pilihan yang ada. Saya minta agar Anda menjawabnya dengan jujur:

1. Anda seorang suami. Istri Anda berkata, “Malam ini kita hanya akan makan tempe.” Apakah respon Anda?
(A). Ah! Tempe-tempe saja pun! Nggak enak!
(B). Alhamdulillah, kamu masih bisa makan malam bersamaku sayang, bukan dengan orang lain.

2. Anda seorang istri. Suami Anda hanya duduk di sofa sambil menonton TV. Apakah respon Anda?
(A). Dasar suami pemalas!
(B). Alhamdulillah, dia berada di Rumah. Bukan di Bar, di Kafe, atau di Tempat Mesum.

3. Anda sedang becermin. Apakah yang pertama kali Anda lihat?
(A). Ih, komedo sialan gue ini nyemak-in banget ish! Ini lagi, sakit banget jerawat gue! Nyesek!
(B). Alhamdulillah, hidung macung gue masih lebih besar daripada jerawat gue. Mata lentik gue yang diberikanNya masih terlihat lebih indah daripada komedo kecil ini.

4. Anda ingin pergi ke suatu tempat. Namun tiba-tiba hujan deras turun. Apakah respon Anda?
(A). Wis, hujan pun! Ck! Hujan sialan! Ntah apa pun hujan-hujan!
(B).  Alhamdulillah, mudah-mudahan setelah hujan ini akan muncul pelangi yang sangat indah.

5. Anda bulak-balik menjumpai kaktus yang berduri dan ulat. Apakah respon Anda?
(A). Is, bikin semak aja sih nih kaktus! Ini lagi ada ulat ang menjijikkan!
(B). Waaah, ada kaktus! Bunganya mana iya? Kan katanya kaktus memiliki bunga yang paling indah! Ini juga ada ulat, semoga cepat jadi kupu-kupu yang indah iya!

6. Anda seorang orang tua. Anak Anda ribut dan mengeluh tentang banyak hal. Apakah respon Anda?
(A). Sudahlah! Sudah terlalu banyak yang Kamu miliki Pergi main ke luar saja sana!
(B). Alhamdulillah, mereka di Rumah. Tidak jadi anak jalanan.

7. Anda sedang berpakaian. Ternyata pakaiannya membuat Anda kesempitan. Apakah respon Anda?
(A). Ih, sempit kali. Pasti ini tukang jualannya sengaja ngatur gini nih. Ntah tukang cucinya juga kali yang nggak beres nih.
(B). Alhamdulillah, aku cukup makan. Tidak seperti dulu lagi yang hanya makan sekali per sehari.

8. Anda letih di penghujung hari. Apakah respon Anda?
(A). Fuh, orang sudah capai pun! Ada saja yang megganggu!
(B). Alhamdulillah, jangan-jangan saya sudah termasuk orang yang bekerja keras.

9. Bunyi alarm keras jam 4 pagi membangunkan Anda. Apakah respon Anda?
(A). Is, ribuuut bangeeeet!!! *matikan alarm* *lempar alarm*
(B). Alhamdulillah, saya masih bisa terbangun, masih hidup.

10. Anda mendapatkan banyak masalah yang besar. Apakah respon Anda?
(A). Capai kali pun masalah-masalah melulu! Aku sudah tidak sanggup lagi!
(B). Alhamdulillah, betapa sayangnya Allah kepada saya. Bisa jadi ini merupakan satu tanda penghormatan dariNya kepada saya. Karena kutahu, Dia hanya akan memberikan masalah besar kepada orang yang besar saja. Dan Dia pun telah berfirman bahwa Dia tidak akan memberikan kesulitan melainkan sesuai dengan kesanggupan kita.

Baiklah, waktu habis. Sekarang, mari kita lihat hasilnya. Dari jawaban yang Anda peroleh, jawaban manakah yang paling banyak Anda pilih? Jika Anda lebih banyak menjawab (A), itu berarti, besarnya potensi kelahiran kesulitan² dibalik kesulitan Anda. Jika Anda lebih banyak menjawab (B), itu berarti, besarnya potensi kelahiran kemudahan dibalik kesulitan Anda. Bila hasilnya kurang memuaskan, segeralah berbenah dan berubah. Bila hasilnya memuaskan, bersyukurlah.

Ada pepatah yang bilang, “Tidak ada yang mudah di dunia ini.” Ada juga pepatah yang bilang, “Tidak ada yang sulit di dunia ini.” Kalau menurut saya, semua hal di dunia ini memang pada dasarnya sulit. Hanya saja, kita berhusnudzon dan membiasakan diri terhadap kesulitan-kesulitan kita. Sehingga, semuanya itu menjadi mudah. Tolong diingat, Anda bisa mudah membalikkan telapak tangan karena sudah sejak dulu Anda lakukan. Pertama kali baru lahir Anda rasa membalikkan telapak tangan pun sulit. Kemudian, soal berbicara. Anda ingat dulu ketika berumur 2 tahun? Anda berusaha berbicara, tetapi rasanya sulit sekali menyebutkan kata-kata yang benar, begitu kan? Belum lagi bicara soal berjalan, pelajaran ketika SD, SMP, dan lain sebagainya.

Itu semua adalah kesulitan di masa lalu Anda yang telah Anda balik menjadi kemudahan. Sayangnya, Ada sebuah kesulitan di masa kecil kita yang kita biarkan sehingga menjadi kesulitan². Ntah itu sulit jujur, sulit bersih, sulit ramah, sulit berbicara di depan umum, dan lain sebagainya. Namun, tidak ada kata terlambat untuk mengubahnya. Iyah, memang tidak ada kata terlambat untuk mengubahnya! Kesulitan² tersebut masih bisa Anda ubah menjadi kemudahan. Dengan syarat dua hal yang tadi, berhusnudzon dan bergiatlah membangun kebiasaan baik tersebut.

Begini. Ada seorang anak desa yang tinggal di pinggir pantai, melihat ombak sebagai mainan. Sedangkan ada seorang anak kota yang tinggal di tengah kota, melihat ombak sebagai penghambat pernafasan. Kemudian, anak yang pertama tadi akan tumbuh menjadi orang yang tidak gentar untuk menolong orang dengan cara mengarungi ombak. Sedangkan anak kedua tadi akan tumbuh menjadi orang yang takut untuk mengarungi ombak. Perhatikan kisah singkat barusan. Sekali lagi, inilah contoh dimana kesulitan telah dibalik menjadi kemudahan atau kesulitan².

Ssebelum menutup tulisan kali ini, saran saya, tolong ingat ini. Ketika kesulitan datang ke kehidupan Anda, sebetulnya pada detik yang sama, kemudahan juga ada datang ke kehidupan Anda. Hanya saja, mungkin Anda belum melihatnya. Dan cara agar bisa kita melihatnya adalah dengan berhusnudzon ria. Itu sebabnya, ketika datang sebuah kesulitan, coba Anda celingak celinguk melihat sebuah kesulitan tersebut, kemudian berkata, “Sekarang yang mudah apa iya?” Lalu bersegera dan bergiat rialah memasuki proses pengenlolaan kesulitan menjadi kemudahan.

Terakhir, untuk menutup tulisan kali ini, mari kita ingat beberapa firman Allah Swt tentang kesulitan. Allah Swt. berfirman, “…Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5). Bahkan diisyaratkan ada 2 kemudahan. Betul, 1 kesulitan dan 2 kemudahan! Lagi, Allah Swt juga berfirman, “…Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya” (QS. Al Mu’­minuun: 62). Itu berarti, kesulitan apapun, iyah, apapun, bisa Anda balik menjadu kemudahan. Tanpa terkecuali. Dan ingat, kesulitan kecil hanya untuk orang berkualitas kecil dan kesulitan besar hanya untuk orang berkualitas besar.


Pernah menuliskan salah satunya?

mengubah kesulitan menjadi kemudahan com (2), apa di balik kesusahan yg kita alami? (1), kesulitan apakah yang anda alami (1), kesulitan berubah (1), Kesulitan dan kemudahan yang pernah kita alami (1), kesulitan yang kita alami (1), 

One Response to “Di Balik Kesulitan yang Kita Alami”
  1. Dani Siregar 25/07/2012

Leave a Reply