Zee’s Hand Diary

Ini diaryku, kisah tentang hidupku, kisah nyataku. Tak peduli sebesar apa ketidaksukaan orang lain, bagiku cemo’ohan mereka adalah penyemangat kebangkitanku. Aku adalah aku dan ini adalah hidupku, orang lain nggak akan tahu bagaimana aku menjalani manis, pahit, hitam, putih, kebahagiaan, kesedihan atau apapun yang ku rasakan dalam perjalanan hidupku ini.

zee,s diaryAku Aisya Fauziah (*nama disamarkan) biasa dipanggil Zee, kelahiran Palembang, 01 Oktober 1992, dari keluarga sederhana ayah seorang pedagang dan dari seorang ibu rumah tangga biasa. Mungkin tak banyak yang istimewa dari diriku, yaaahh, kecuali keadaanku yang membuatku menjadi pusat perhatian.

“Zee… zee… hei Aisya Fauziah, apa kamu di dalam?”
“Iyaaa, masuk aja pintu nggak dikunci” Terdengar ketukan di pintu kamarku, dan jelas aku tahu itu siapa…
“Kamu ngapain? Cieee, lagi nulis diary ya? Liat dong” Ini si usil Reina sahabatku dari kecil nyoba ngerebut diaryku, yang tentu aja nggak bisa dia wujudkan karena aku nggak bakal mungkin ngebiarin siapapun baca diaryku.
“Heh, heh, apa tujuan kamu ke sini? Hmmm… aku tahu, kamu pasti mau nyontek tugas ekonomi ku kan? Daripada aku ngeliat kamu lama-lama di sini, lebih baik kamu ambil tugasnya di tas ku terus pergi , Pengacau”
“Iiihh, kamu tahu aja. Ya udah, kamu lanjutin gih nulisnya. Makasih ya Beibh. Hahaahahaa” Reina ngambil tugas dan nggak lupa ngasih ciuman asemnya yang kerap dia layangkan ke pipiku setiap kali nyontek tugas, dasar!!!

***

Pada saat duduk di bangku SD aku sering banget dapet julukan yang nggak enak dari temen-temenku, tapi yang bisa aku lakuin cuma nangis dan curhat dengan mama. Aku dapet julukan “ Si Pengkor”, itu julukan dalam bahasa salah satu daerah di Palembang. Aku sering banget nangis dan nganggep Tuhan itu nggak adil dengan nyiptain aku seperti ini, aku terlahirdengan tangan kanan yang nggak normal seperti orang lain, aku cacat!!!

Waktu mama mau ngelahirin aku, mama nggak punya nafas panjang yang ngebuat bidan bingung untuk bertindak apa? Dan akhirnya si bidan ngasih pilihan pada papa dan keluarga ku yang saat itu ikut menunggu persalinan. “Jika si bayi tidak dikeluaran maka si ibu dan bayi tidak akan selamat, tapi jika si bayi dikeluarkan secara paksa maka si ibu ada harapan untuk selamat namun untuk si bayi kecil kemungkinannya”. Keluargapun sepakat untuk mengusahakan aku dikeluarkan secara paksa dengan menarik tangan kananku.

“Heh, Zee! Jangan sok cantik ya, kamu Cuma cewek sederhana dan nggak normal pula!” Pandangan sinis ke arah tanganku itu semakin membuatku geram, aku bosan diperlakukan seperti ini.
“Heh, Nyonya Selly Marlinda yang terhormat ada apa gerangan yang anda resahkan, sampai-sampai mulut sampah anda ini mengoak pagi-pagi buta seperti ini, hah?” Dengan nada dan pandangan yang tak kalah sinis aku mulai melawan karena hidupku dan diaryku telah terganggu.
“Wah, wah, wah ternyata Si Nyonya Cacat ini sudah mulai berani berkutik! Kamu tahu jasad kamu yang menjijikkan ini sepantasnya berada  di SLB “Sekolah Luar Biasa”. Uuups! Okay, I know that. Kamu harus tetep di sini untuk terus meggoda anak-anak orang kaya buat naikin derajat kamu dan keluarga mu kan???” Sungguh ini penghinaan terbesar yang pernah aku rasain, dan aku bener-bener nggak sanggup lagi menahan emosi ku seperti yang selalu disaranin mama. Akhirnya aku naik pitam dan memukul bibir Selly hingga berdarah dengan kotak pensil besi milik Reina yang ada di depanku.

***

Karena kejadian kemarin aku diskorsing oleh pihak sekolah, yaah nggak heran anak pedagang vs anak polisi. Nggak sekolah bukan berarti nggak bisa belajar di rumah, dong. Dan ada satu lagi hobby ku yang bisa ngilangin jenuh, yaitu nulis diary.

Terlahir dengan keadaan seperti ini nggak ngebuat aku patah semangat dan putus harapan, meski  banyak hinaan, cemo’ohan umpatan, gossip atau apalah itu namanya berdatangan padaku, dan belum lagi kesulitan yang aku dapat untuk mengikuti berbagai kegiatan Olahraga di sekolah. Tapi buktinya aku bisa ngelewatin itu semua dan bertahan bersekolah di tempat favorit dan mahal. Itu emang aku dapetin dari beasiswa prestasiku, dan nggak lupa peran orang tuaku yang paling pnting dalam mendukungku.

“Zee, Zee!!!” Reina dateng tiba-tiba dengan nafas terengah-engah.
“Rei, kamu itu seneng banget ya dateng di saat aku lagi asyik nulis diary. Emang ada apa sih, smpe kamu lari-lari gitu?”
“Kamuh… Kamuh… Huh… Huh…”
“Iiihh, kalo ngomong itu yang jelas, Rei. Udah, kamu ambil nafas dulu baru ngomong”
“Tadih… Selly dan kak Dicko ribut besar dan akhirnya kak Dicko minta putus di depan anak-anak… Huh… Dan kamu tau nggak, Selly marah besar dan nyalahin kamu sebagai orang ke-tiga”

***

Nggak terasa masa skorsing ku selama seminggu sudah selesai, hari ini aku masuk sekolah seperti biasanya. Aku nggak terlalu peduli apakah orang akan menganggapku hina seperti yang dikatakan Selly atau tidak ? Yang jelas, aku nggak pernah ngerubah tujuan ku sekolah untuk mendapatkan ilmu agar bisa mendapatkan penghidupan yang layak bagi keluargaku kelak, bukan untuk ngegaet anak orang kaya supaya bisa numpang hidup nantinya. Oh,  no!!!

Tapi hari ini semua lancar-lancar aja dan nggak ada yang ganggu aku seperti biasanya, mungkin karena aku udah mulai melawan.

“Hai, Sell!” aku ngahampirin Selly yang lagi sendirian di taman waktu istirahat, tapi dia ngejawab sapaanku.
“Aku minta maaf soal kejadian aku mukul bibir kamu, tapi sungguh itu  karena aku udah mulai nggak tahan dengan semua perlakuan orang-orang yang menganggap aku seolah manusia terhina dengan tangan seperti ini. Dan soal kak Dicko, sumpah mati aku nggak pernah berniat untuk ngerusak hubungan kalian. Kami pernah deket pun itu karena sama-sama ikut lomba sains waktu kita kelas XI, setelah itu kami nggak deket lagi apalagi sekarang kak Dicko udah kuliah di kedokteran jadi mana mungkin kami berhubungan lagi”
“Okay, maybe kalo soal hinaan itu aku harus minta maaf sama kamu, tapi kalo soal kak Dicko aku bener-bener benci sama kamu karena kak Dicko selalu ngebandingin aku sama kamu. Well, mungkin aku emang nggak sebaik kamu meskipun aku lebih sempurna secara fisik dan materi dibanding kamu. So now, aku juga nggak mau mikirin dia lagi, nggak mau mikirin orang yang nggak cinta lagi sama aku” Selly pun memberikan tangannya untuk berjabat sebagai tanda perdamaian.

***

Mungkin sekarang bukan hanya orang tua yang aku punya untuk menjadi penyemangatku hidup, tapi aku punya Reina sahabat terbaikku, aku juga punya Selly sebagai teman baruku, dan kak Dicko. Ya, kak Dicko yang sejak perdamaian aku dan Selly ternyata Selly dan Reina punya rencana mempersatukan aku dan kak Dicko.

Then, I have once great story in my life. Aku lulus jalur Bidik Misi Universitas Padjajaran di Fakultas Ekonomi Program Studi Administrasi Perpajakan. Yaahh, sekarang setidaknya nggak ada lagi yang memandang Aisya Fauziah sebagai anak sederhana yang cacat dan hina, sekarang aku Aisya Fauziah mahasiswi universitas idaman banyak orang.

Dan sekarang aku akan lebih mengerti artinya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha ESa , walau dengan bentuk apapun Dia menciptakan hamba-Nya pasti ada rencana indah di balik itu semua.

Akupun berharap nggak ada lagi orang-orang normal berhati cacat jika menemukan Zee Zee yang lainnya. Karena di balik kekurangan kami, masih ada banyak kelebihan yang kami miliki.

=~+~ END ~+~=

Oleh : Cya Fatih

Attention please
Ingin artikel, cerpen atau tulisan-tulisan anda dibaca oleh banyak pengunjung kami? Mari bergabunglah menjadi penulis kami seperti cya fatih. Caranya mudah hanya tinggal hubungi saya (lihat info di halaman about us) atau langsung kirimkam tulisan anda di rino_saputro@ymail.com.

Penting!!!
Tulisan anda tidak akan langsung dimuat tetapi akan melalui moderasi terlebih dahulu.

 

2 Responses to “Zee’s Hand Diary”
  1. sherlyalfiranty 02/07/2012

Leave a Reply