Mencari Pemimpin yang Bermoral (1)

Kemajuan apapun yang dicapai oleh suatu bangsa, tanpa adanya sebuah bangunan moralitas, terutama moralitas pemimpinnya, tak akan membawa kebaikan bagi siapapun. Juga dalam perkembangan terkini. Dunia semakin tersadarkan pentingnya pemimpin bermoral untuk mengatasi krisis di setiap negara. Karenanya, jauh-jauh hari Nabi Muhammad Rasululloh SAW pun saat harus menjelaskan alasan kerasulannya menegaskan, “sesungguhnya aku diutus ke dunia ini semata-mata untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Kalau kita berbicara sekitar etika dan kepribadian, sebenarnya mengarah pada bahasan tentang moral (akhlakul karimah) yang kerap kali lebih banyak menekankan soal baik-buruk, slah-benar, haram-halal dan segala hal yang berujung pada pahala-dosa, dunia akhirat. Di Kalangan muda sendiri sering kali dikenal dengan istilah ‘gerakan moral’ sebuah istilah yang mencerminkan perlawanan terhadap kekuasaan yang korup dan dzalim dengan spirit moral bersama.

Bagaimana sebuah kepemimpinan meletakkan dimensi moral masih menjadi faktor penting dalam kepemimpinan, itu menjadi persoalan kita. Bagaimana memposisikan moralitas kepemimpinan dalam konteks ke-Indonesiaan, seperti bagaimana ukuran dan parameternya, dan seperti apa model pelaksanaannya. Apakah di tengah kita lebih banyak pemimpin formal atau pemimpin moral?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Stephen R Covey membantu cara membedakan antara pemimpin moral dengan pemimpin formal. Menurutnya akan terjadi sebuah perbandingan dan perbedaan sebagai berikut:

Kekuatan menentukan kebenaran versus kebenaran menentukan kekuatan. Loyalitas di atas integrasi versus integrasi adalah loyalitas. Salah adalah kalau tertangkap versus salah adalah melakukan hal yang salah. Pemimpin tertinggi tidak akan menjadi teladan versus keteladanan dimulai dari pemimpin. Citra adalah segalanya versus “benar-benar menjadi… Dan bukan hanya sekedar terlihat.” yang ada hanya sekian versus ada cukup banyak san masih tersisa (The Bth Habits, Stephen R Covey, 2006).

Rumusan perbandingan di atas dapat menjadi gambaran bahwa senantiasa terdapat pergerumulan dan bagaimana memadukan (sinergi) menjadi sebuah solusi dan kekuatan antara moral-formal; idealisme-pragmatisme, kepentingan jangka pendek-jangka panjang Seperti halnya kondisi Indonesia saat ini yang masih menunjukkan jurang yang menganga antara realita dan cita, cita sebagai bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dengan realita terkini yang masih mengenaskan baik pada tataran global, nasional dan lokal di seluruh negeri.


Pernah menuliskan salah satunya?

pemimpin yang bermoral (11), 

Leave a Reply