Kesuma Bunda (Ibuku Pahlawanku)

Ku pejamkan mata, berharap ketika ku membukanya hanya ada aku dan bangku-bangku bisu di sekelilingku. Ku bungkam bibirku rapat-rapat, berharap ketika ku bicara nanti hanya ada papan tulis tuli yang memandangku. Ku rekatkan kedua tanganku, berharap semua doaku dapat tertutupi olehnya. Semoga tak kan ada yang mencemooh ceritaku ini.

kesuma bunda

“Hanifa Ulfa!”
“Hanifa Ulfa!”
“HANIFA ULFA!”
“Ehh, iya saya bu.”

Huuuh, sekarang giliranku maju ke depan kelas. Sebenarnya aku suka sekali dengan pelajaran Bahasa Indonesia, tapiii rasanya aku nggak sanggup buat ngikutin pengambilan nilai kali ini.

“Hani, cepat mulai cerita kamu.” tegur bu guru melihat aku hanya melamun saja.
“ Iya baik bu. Baiklah teman-teman di sini saya akan menceritakan tentang kehidupan saya, yang bertema IBU.”

۝۝۝

“Assalamualaikum!”
“Wa’alaikum salam , kenapa kamu sayang? Ada masalah di sekolah?”
“nggak, Bun. Hani cuma kecapek’an aja kok, Hani cuma butuh istirahat.” Aku berjalan meninggalkan Bunda dan menuju kamar.

Terkadang pikiran picikku selalu muncul, di saat aku benar-benar merasa berbeda dengan teman-temanku yang hidupnya penuh kejelasan. Terkadang aku merasa begitu menyesal terlahir dari rahim Bunda, dan berfikir apakah benar ada surga di telapak kakinya.

“Sayaaang, boleh bunda masuk?” terdengar suara bunda dari balik pintu kamarku.
“Iya Bun masuk aja, nggak dikunci kok.”
“Kamu kenapa sayang? Kalo ada masalah cerita dong sama Bunda.”
“Nggak Bunda, Hani cuma lagi pusing aja.”
“Pusing kenaoa sayang? Ayo cerita! Kali aja  Bunda bisa bantu.”
“Apa sih? Bunda kepo banget deh, bikin Hani tambah pusing. Sebel tau?”
“Iiiihh, kok gitu jawabnya anak Bunda?” Bunda coba merangkulku, tapi aku melepaskan rangkulan itu.
“Udah deh! Mending Bunda keluar dari kamar Hani, karena Bunda nggak kan bisa bantu nyelesain masalah Hani! NGGAK AKAN BISA!!! Karena Bunda lah sumber segala maalah dari  hidup Hani, mungkin bener kata temen-temen Hani kalo Bunda tu PELACUR!”

PLAKKK!!!

Tamparan pertama yang Bunda berikan ke aku seumur hidupku, melayang tepat di pipi kanan ku meskipun ini bukan pertengkaran pertama kami.

۝۝۝

“Bunda nggak nyangka anakku sendiri bahkan tak bisa bersikap baik padaku. Mungkin ini memang salah Bunda yang nggak pernah menceritakan semuanya pada kamu, karena Bunda menunggu waktu yang tepat untuk itu. Tapi mungkin inilah saat yang tepat untuk kamu mengetahui semuanya…”

“…Sewaktu kuliah semester akhir Bunda sudah berpacaran dengan Ayahmu, Ayahmu adalah seorang polisi di daerah Bunda kuliah. Ayahmu sering berkunjung ke kos’an Bunda, di saat itu pula perbuatan yang tidak sepantasnya terjadi itu kami lakukan…”

“…Dan waktu Bunda menyusun skripsi Bunda telah mengandung kamu. Tapi waktu Bunda bilang, lelaki brengsek itu malah tidak mau bertanggung jawab dan semenjak itu dia tidak pernah menemui Bunda lagi…”

“…Tiga bulan kemudian Bunda wisuda dan segera menemui orang tua Ayah kamu untuk minta pertanggung jawaban dan segera dinikahkan. Meskipun dengan susah payah akhirnya kami pun menikah. Namun setelah menikah Bunda dikembalikan ke rumah orang tua Bunda, tapi saat itu bahkan keluarga Bunda sendiri pun tak mau menerima Bunda lagi karena dianggap telah mencemarkan nama baik keluarga…”  Bunda pun mulai meneteskan air mata di sela-sela ceritanya.

“BUNDA HENTIKAN!” Aku mulai tak ingin mendengar cerita Bunda dan akupun menutup telingaku agar tak bisa mendengar apapun, tapi Bunda tetap saja melanjutkan ceritanya.

“…Bunda pun memutuskan tetap tinggal di kos’an dan mencari kerja, akhirnya Bunda menjadi guru di sebuah SMP. Usia kandungan pun kian membesar, seiring dengan itu kebutuhan Bunda juga semakin besar. Akhirnya Bunda menemui Ayahmu untuk meminta nafkah darina, tapi dia menolak dan mengatakan bahwa anak yang ada di rahim ini bukanlah anak  nya…”

“…Bunda berusaha tegar untuk bisa hidup sendiri, hingga beberapa hari setelah kamu lahir surat gugatan cerai pun dating. Bunda nggak bisa dan nggak mau mempertahankan itu semua, tohh itu sudah cukup untuk membuktikan kalo dia bukanlah lelaki bertanggung jawab yang pantas untuk dijadikan penopang hidup. Setelah keputusan cerai diturunkan oleh hakim, Bunda pindah jauh dari tempat dimana orang tua, Ayahmu, dan siapapun yang mengenal Bunda tidak bisa menemukan Bunda, Bunda pun mengganti identitas Bunda…”

“…Nggak sedikit rintangan, cemoohan, hinaan, dan fitnah yang Bunda terima karena Bunda seorang single parent yang nggak jelas dari mana asalnya, untungnya kepala desa dan tokoh masyarakat di sini adalah orang yang bijak. Tapi Bunda sudah cukup bahagia dengan memiliki seorang putri yang cerdas dan cantik seperti kamu, Sayang.”
Bunda langsung beranjak ingin keluar dari kamar, tapi aku menahannya dan memeluknya erat.

“Hani sayang Bunda, maafin Hani ya Bunda ”

“iya, sayang. Bunda akan terus jadi sosok Bunda sekaligus Ayah buat kamu, Bunda bertahan semata untuk kamu sayang. Bunda nggak mau kamu bernasib yang sama seperti Bunda.”

“Hani janji nggak akan ngungkit-ngungkit soal Ayah yang nggak pantes dianggap Ayah.”

۝۝۝

“maka dari itu seburuk apapun pandangan orang lain terhadap aku dan ibuku, aku tetap bangga karena telah memiliki ibu yang sangat hebat yang tidak semua orang bisa memilikinya. Aku akan sekuat tenaga senantiasa membahagiakan ibu, sebagaimana beliau selalu membahagiakan ku. Baiklah teman-teman sekian cerita dari saya”

Dan semenjak itu semua berubah menjadi jauh lebih baik, tak ada lagi yang mencemooh, semua semakin menjadi seperti keluarga. Bunda dan aku telah menemukan keluarga baru di kehidupan baru kami. Dan aku lebih baik tanpa Ayahku meskipun Bunda selalu melarangku membenci Ayah.
I love you, Mom

Oleh : Cya Fatih

Attention please
Ingin artikel, cerpen atau tulisan-tulisan anda dibaca oleh banyak pengunjung kami? Mari bergabunglah menjadi penulis kami seperti cya fatih. Caranya mudah hanya tinggal hubungi saya (lihat info di halaman about us) atau langsung kirimkam tulisan anda di rino_saputro@ymail.com.

Penting!!!
Tulisan anda tidak akan langsung dimuat tetapi akan melalui moderasi terlebih dahulu.

 


Pernah menuliskan salah satunya?

cerpen ibu pahlawanku (3), cerita bebas pahlawanku (1), menceritakan pahlawanku tentang ibuku (1), 

Leave a Reply