Ku Hampir Kuncup

Seribu langkah  menulusuri gang kecil dengan kerlip lampu bersinar kemerahan tertangkap satu langkah kecil dengan gontaian kaki yang lemah, lesu, tak bergairah. Kutatapi kaki kecil di depanku, mengapa ku tak berani untuk memandang ke atasnya. Waktu pun telah mengantar ku ke depan rumah. Malam ini terasa dingin walau aku telah memasuki kamar tidurku. Sejenak aku memikirkan mengapa anak tadi berjalan tanpa gairah, dan mengapa aku jadi begini sejak kejadian itu. Aku tak mampu lagi menatap siapa pun yang berada di sekitarku. Akhhh… apakah aku akan terus terbelenggu dalam ketakutan seperti ini untuk selamanya???

ku hampir kuncup

“Ricca, apa kamu sudah di dalam?”  Suara ibu terdengar memanggil-manggil namaku.

Entah mengapa bibirku tertutup untuk menjawab panggilan ibu. Sampai akhirnya aku mendengar gagang pintu kamarku bersuara dan aku tahu itu ibu, tapi aku malah menutupkan kedua mataku, dan tidak menyambut sama sekali panggilan ibu. Tak lama kemudian terdengar hembusan nafas lega ibu yang kemudian pergi seraya menutup pintu kamarku.

***

Aaahh… hari ini aku mulai lagi menjalani aktivitas di sekolahku yang baru,  tepatnya baru tiga minggu ku jalani. Yang seperti biasa aku diantar jemput oleh ayah meski sudah kelas 3 SMA. Tapi ayah selalu setia dan bersedia mengantar dan menjemputku agar aku merasa terjaga.

Hari ini seperti hari-hari biasanya aku hanya belajar, belajar dan belajar. Tapi untungnya semua anak laki-laki yang ada di sekolah baruku tak ada yang usil. Hanya saja aku takut dengan seorang siswa laki-laki yang bernama Barry. Dia selalu saja seperti mengintaiku, aku tahu itu. Dia mengikuti aku dari belakang. Beberapa kali ia mencoba mengajakku berbicara namun  aku selalu mencari alasan untuk mempersingkat pertemuan dengannya. Seperti pagi tadi setelah upacara bendera, dia beralasan meminjam catatan ekonomi akuntansi padaku. Namun setelah ku pinjamkan, aku pun langsung pergi menjauh darinya.

“Ricca!!” Sekarang aku mendengar lagi suaranya, ya suara Barry memanggilku dengan ragu kuputarkan kepalaku mengarah padanya. Barry menghampiriku.
“Siang ini kamu ada acara nggak?” Tanya Barry padaku.
“Aku nggak tahu ada acara atau nggak, tapi untuk sementara ini aku mau belajar sosiologi buat ulangan besok.”
“Naaaah justru itu, Ca. rencananya kalau kamu bersedia dan tidak berkeberatan aku, Iwan, Wulan dan Tamy mau belajar bareng di rumah kamu, kamu kan pinter sosiologi.”
“Ma maaf aku nggak bisa.” Jawab ku singkat dan langsung berpaling serta menjauh dari hadapan Barry, dan segera menuju ke kelas.

***

Ayah kenapa lama sekali menjemput? Apa ayah lagi sibuk di kantor? Tapi apa salahnya aku mencoba untuk pulang sendiri, tak ada salahnya aku memberanikan diri untuk pulang ke rumah. Toh, rumahku nggak jauh dari sini, cukup berjalan kaki beberapa meter, sampai.

Dengan hati yang sedikit ragu aku tetap nekat melangkahkan kakiku menuju ke rumah. Keraguan kaki ini untuk melangkahpun semakin besar. Saat aku melewati gang  kecil yang sepi di dekat rumahku, yang hanya aku lewati ketika aku pergi atau pun pulang shalat di masjid. Itupun aku berani karena pada jam-jam itu jalanan masih ramai, tapi kalau siang seperti ini orang-orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan gang inipun sepi dari pejalan kaki.

“Ricca…!” Suara ayah memanggilku. Aku pun tersenyum melihat ayahku yang kelihatan panik dari dalam mobilnya.
“Kamu tidak apa-apa kan, Nak?”
Aku hanya menggeleng sembari tersenyum, sambil menutup pintu mobil ayah.
“Ayah minta maaf sudah membuat kamu menunggu lama, karena ayah tadi ada meeting penting. Tapi lain kali kamu jangan pulang sendirian lagi, kamu minta temenin sama temen sekolah kamu aja ya, kalau ayah telat  jemput lagi.”
“Iya, Ayah. Ayah nggak khawatir gitu deh. Buktinya Ricca nggak apa-apa kan sekarang, lagian nggak jauh kok jaraknya.

Tak lama kemudian kami pun sampai di rumah. Ya seperti biasanya hanya ada ibu yang menunggui aku dan ayah pulang, karena aku tak punya kakak ataupun adik. Selesai ganti pakaian, shalat dan makan siang, akupun bergegas tidur siang.

Kring… kring…
Suara  HP ku bernada nostalgia, tapi nomor yang masuk tidak ku kenal. Dengan segera aku pun mengangkatnya.

“Halo, Assalamualaikum.” Sapaku kepada si penelpon tak dikenal.
“Wa’alaikum salam, bener ini nomor HP-nya Ricca??”
“Iya, ini siapa?”
“Ini aku Barry. Ada sesuatu yang ingin dan harus aku katakan padamu, aku harap kamu jangan tersinggung ataupun marah setelah mendengarnya.”
Aku bingung mendengar perkataan Barry, seperti ada sesuatu yang benar-benar serious dan penting bagiku dan dia.
“Aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu, aku nggak perlu jawaban dari kamu Ca, tapi aku hanya ingin melegakan perasaanku. Dan satu lagi apa salahku? Kenapa setiap kali aku mengajakmu bicara kamu seolah jijik menatap wajahku dan selalu menghindar?”

Aku semakin bingung dan bimbang bagaimana harus menjawabnya, namun tak sempat ku jawab telepon pun terputus.

Gara-gara penasaran mengapa telepon tadi siang yang tiba-tiba saja terputus, aku jadi nggak konsen untuk belajar, apalagi tidur. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa berbuat apa-apa.

***

Keesokan harinya, berbalik aku yang penasaran dan selalu mencuri pandang melihat ke arah Barry. Seringkali kami tak sengaja bertatapan mata hari ini. Tapi baik aku mapun Barry tak ada yang berani untuk angkat bicara.

Hari ini kenapa ayah telat lagi, ya? HP-nya pun nggak aktif, apakah aku harus pulang sendiri lagi? Yaahh apa boleh buat? Seperti kemarin kan tidak terjadi apa-apa, apa susahnya pulang sendiri ke rumah?!

Tetapi seperti ada langkah lain yang mengikutiku sejak di depan sekolah tadi, apa itu Barry? Tapi aku tak berani untuk berbalik sebentar saja. Aku malah mempercepat langkahku. Semakin cepat langkahku semakin dekat pula langkah itu. Aku pun memberanikan diri untuk membalikkan tubuhku. Tapi pemilik langkah itu menerkamku dengan sekuat tenaga, aku pun mencoba melawan.

“Tolong… tolong…” Teriakku sekeras-kerasnya, dengan tubuh yang terbekap kaku, lunglai dan tak bertenaga lagi.

***

Aku pun tersadar, ternyata aku bangun dari pingsan. Kupandangi seragamku yang kotor dan terkoyak di bagian lengan. Pikiranku kacau, hati ku hancur. Apakah aku sudah…

“Oh, tidak. Ya Allah apakah sekeras ini cobaan yang Engkau berikan?” Rintihku mrnyesakkan dada, hingga rasanya aku tak sanggup untuk bernafas.
“Ricca, kamu sudah sadar, Nak?” Ibu menghampiriku seperti lega.
“Bu…” Aku tak meneruskan kata-kata ku karena melihat ayah dan Barry memasuki kamar rawat inap rumah sakit langgananku.
“Kamu jangan khawatir , Roy telah tertangkap, dan kamu masih suci.” Sambung Barry di samping ranjangku.
“Barry sudah tahu semuanya?”
“Ya, aku tahu semuanya. Mengapa kamu seolah jijik dengan setiap lelaki dan selalu menghindariku? Aku tahu kejadian lima bulan yang lalu di hari kelahiran mu yang ke-17 tahun  ketika teman sekelas mu Roy mencoba melakukan hal biadab itu di gudang sekolah saat ia menyatakan cinta penuh nafsunya padamu dan ternyata itu kamu tolak. Aku tahu semuanya.”
“Tapi bagaimana bisa aku masih suci? Sedangkan aku tak sadarkan diri, dan bagaimana bisa aku berada di sini?”
“Ya, aku dan ayahmu datang ketika kamu sudah tak sadarkan diri, dan Roy telah mencoba melucuti seragammu, tapi untungnya kami tidak datang terlambat dan polisi segera datang setelah sempat terjadi perkelahian antara aku dan Roy. Aku berjanji, aku akan mencoba menghilangkan rasa trauma dalam dirimu. Karena aku nggak mau kamu terus terbelenggu dalam ketakutan. Percayalah Allah, ayahmu, ibumu dan aku akan selalu memberikan perlindungan terbaik untukmu.”
“Terima kasih Barry.”

Entah mengapa rasa takut terhadap laki-laki hilang jika aku berdekatan dengan Barry, dan mengapa aku harus berlama-lama terbelenggu dalam ketakutan, selama Allah dan orang-orang di sekitarku akan terus melindungiku dengan kasih sayang yang tulus.

Oleh : Ica Efilia Natasya

Attention please
Ingin artikel, cerpen atau tulisan-tulisan anda dibaca oleh banyak pengunjung kami? Mari bergabunglah menjadi penulis kami seperti cya fatih. Caranya mudah hanya tinggal hubungi saya (lihat info di halaman about us) atau langsung kirimkam tulisan anda di rino_saputro@ymail.com.

Penting!!!
Tulisan anda tidak akan langsung dimuat tetapi akan melalui moderasi terlebih dahulu.

 


Pernah menuliskan salah satunya?

ku hampir kuncup (2), 

One Response to “Ku Hampir Kuncup”
  1. Jejak Puisi 23/03/2012

Leave a Reply