Bisakah Dunia Sedikit Ramah?

Indonesia-ku, sebuah negara yang terkenal ramah dan sopan di mata dunia. Benarkah? Cukup bisa kita percaya mengingat nenek moyang kita yang dahulu sangat sopan dan ramah sekali dengan para bakal penjajah. Rama dan sopan yang ternyata kian luntur terbawa oleh arus budaya yang samakin menuju modernisasi, termasuk juga karena tuntutan zaman. Terbukti ketika kedudukan membuat seseorang buta akan budayanya. Tamak, sok, angkuh yang ditunjukkan dengan mereka-mereka yang ada di bawahnya.

ramah

Umur bukanlah menjadi batasan di dunia modern ini. Hanya jabatan yang menjadi batasan antara individu yang satu dengan yang lain. Wajar jika banyak yang berargumentasi jika hidup ini kian lama kian berpedoman pada hukum rimba, “yang kuat adalah pemenangnya“.

Seorang menejer perusahaan dengan sangat angkuhnya memarahi pegawainya, padahal pegawai itu jauh lebih tua darinya. Alasan profesional menjadi tameng dari perlakuan sang menejer. Tapi apakah hal seperti ini sesuai dengan “konsep” kepribadian Indonesia yang katanya sopan dan santun? Memang kesalahan yang dilakukan dalam sebuah perusahaan tidak dapat di toleril karena akan mengganggu kinerja perusahaan. Namun bukankah telah ada prosedur? Tidak bisakah teguran disampaikan lebih halus lagi? Jika memang seorang pegawai tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik maka silahkan keluarkan keputusan yang bijak tanpa harus berkata kasar, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna.

Kenapa sopan santun yang dulu menjadi pribadi kebanggaan bangsa kita kian lama kian luntur?

Secara pribadi, sebagai seorang remaja maaf saya menyalahkan golongan tua. Karena suatu perbuatan, sikap ataupun tingkah laku tidak akan terbudaya jika tidak dilakukan terus menerus. Dengan kata lain lunturnya budaya sopan santun adalah karena proses yang berlangsung terus menerus yang tanpa disadari ternyata SALAH.

Banyak guru saya ketika SMA berkata, “anak zaman sekarang banyak yang bodoh karena selalu dilembuti, berbeda dengan anak zaman dulu yang pintar karena proses pembelajarannya yang keras.” Secara pribadi saya tidak suka dengan pendapat ini karena sebagai seorang guru tugas kita bukanlah mencerca kekurangan seorang murid melainkan menstimulus anak agar bagaimana kekurangan itu dapat terpenuhi, terlebih hal ini akan membentuk sebuah main set negatif pada diri seorang anak. Sedari kecil yang kita telah diajarkan jika kita salah maka wajib dihukum atau dimarahi. Main set dalam diri anak tersebut akan di bawa hingga ia dewasa dan dipraktikkan dalan kehidupannya. Al hasil tumbuhlah pribadi-pribadi seperti seorang menejer yang saya contohkan di atas.

Bukan berarti budaya sopan santun yang dirasa telah luntur ini tidak dapat kembali menjadi pribadi bangsa Indonesia. Inilah sebenarnya fungsi pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan diharapkan dapat berperan aktif untuk menanamkan nilai-nilai yang telah menjadi pribadi bangsa untuk dapat terus digunakan dan dilestarikan. Peranan guru sangat menjadi kunci sukses di dalamnya untuk menghasilkan individu yang sesuai dengan pribadi dan tujuan pendidikan bangsa Indonesia.

“Perbaiki dirimu agar bisa menjadi motivasi bagi keluargamu yang perlahan akan merubah pribadi bangsamu. Siapa tahu dengan seperti itu akan dapat merubah pribadi dunia ini.”

Indahnya dunia ketika kita dapat saling berbagi.

3 Responses to “Bisakah Dunia Sedikit Ramah?”
  1. sweethy amore 17/02/2012
  2. hayardin 15/02/2012

Leave a Reply