Ketika Agama Diatur Oleh Etika

inoputro(dot)com, ketika agama diatur oleh etika.

Awal saya memulai aktivitas blogging saya pernah membuat artikel tentang pentingnya penerapan etika dalam kehidupan kita. Semua hubungan yang terjadi secara sadar ataupun tidak sadar merupakan aplikasi dari penerapan etika. Mengapa 2 atau lebih individu dapat berinteraksi hal itu dikarenakan mereka memiliki batasan etika (berupa nilai, norma dan moral) yang saling dimengerti dan diterima satu sama lain.

Pada dasarnya etika itu sendiri lebih jauh di dasari oleh agama yang dianut individu. Bisa kita ambil contoh bagaimana etika kita ketika berjalan di depan orang yang lebih tua dari kita. Dalam bayangan kita ketika kita berjalan di depan orang yang lebih tua kita akan menundukkan kepala dan berucap kata permisi. Banyak yang berkata hal tersebut adalah budaya. Namun ternyata jauh sebelum kita mengenal kata budaya itu, agama Islam telah memerintahkan kepada kita umat nabi Muhammad untuk bersikap baik dan sopan santun terhadap orang tua. Dan salah satu contoh aplikasinya adalah seperti kasus di atas, menundukkan kepala ketika berjalan di depan orang tua.

Lalu apa masalahnya? Masalah sebenarnya yang terjadi bahkan bisa dikatakan sebagai masalah terbesar adalah ketika keadaan berbalik. Bukan etika yang didasari agama, melainkan agama yang didasari etika.

Sering saya mendengar ketika seseorang melakukan acara ‘yasinan’ sebagai pengantar salah seorang keluarganya yang telah meninggal. Padahal dalam islam sendiri tidak pernah mengenal istilah yasinan dan nabi sendiri tidak pernah mencontohkan hal serupa. Tidak sedikit yang mengetahui hal ini, bahkan ketika ditanya mengapa mereka mengadakan yasinan alasannya bukanlah karena ingin mengirimkan doa karena dia telah mengetahui jika tidak ada hadis yang memerintah seperti itu. Ternyata yang dijadikan alasan adalah jika tidak melakukan yasinan maka tidak sesuai dengan norma dan budaya masyarakat di lingkungannya.

Hal lain saya dapati ketika saya tidak sengaja mendengar ceramah dari salah seorang ustadzah kondang yang menjawab pertanyaan dari audiennya. Inti dari pertanyaannya adalah apakah perlu memisahkan antara mempelai wanita dengan mempelai pria ketika akan melangsungkan ijab kabul. Dan ternyata jawaban yang diberikan adalah tidak perlu. Nah loh???

Sebenarnya bukan jawabanya yang saya prihatinkan akan tetapi alasan kenapa beliau menjawab demikian yang saya prihatinkan. Alasan yang diberikan adalah untuk apa ketika mau menikah dipisahkan sedangkan pada kesehariannya mereka berpacaran, senggol-senggolan, dempet-dempetan.

Jawaban yang menjatuhkan Agama Islam

Mengapa saya berpendapat ini adalah jwaban yang menjatuhkan agama Islam? Karena dengan pernyataan seperti ini seakan-akan beliau memperbolehkan mereka pasangan kekasih untuk bersenggol-senggolan untuk berdempet-dempetan. Padahal dalam hadis telah diterangkan bahwa lebih baik ditusuk dengan jarum yang panas dari pada menyentuh seorang wanita yang bukan mahrom kita.

“قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”(Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386)

Pernyataan tersebut juga secara tersirat memberikan bahwa para ustad ustadzah di Indonesia ini tidak berani berbicara tegas bahwa perkara di atas itu benar adanya. Mengapa? Karena mengingat tentang etika dan budaya yang ada di Indonesia. Pacaran dengan bermesrah-mesrahan bahkan berlebihan seakan dianggap sah-sah saja karena alasan etika,nilai, dan norma yang ada. Padahal hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Seharusnya ada pembeda yang  jelas antara agama dan dunia. Dan salah satu hadis nabi juga pernah menyatakan bahwa jika kalian melihat suatu maksiat maka tegurlah dan jika tidak mampu untuk menegur maka diamlah dan bencilah (jangan lakukan) perbuatan itu.

 

Indahnya dunia ketika kita dapat saling berbagi.


Pernah menuliskan salah satunya?

Bahaya dempet dempetan dg pacar (1), 

2 Responses to “Ketika Agama Diatur Oleh Etika”
  1. ABS 02/01/2012

Leave a Reply