Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI

Teringat masa SMP saya pada saat saya menduduki kelas IX di SMPN 2 Gelumbang. Ketika itu saya diminta untuk mengantarkan seorang guru saya untuk mengajar di salah satu SMP terbuka yang ada di pelosok. Walaupun sedikit terpaksa tapi dengan sedikit pertimbangan saya mengiyakannya. Hitung-hitung menambah pengalaman. Ternyata benar, bukan hanya pengalaman yang saya dapatkan. Dari sini angan saya berbicara, “Andai saya menjadi Anggota DPD RI.”

Andai saya menjadi Anggota DPD RI, terbesit di hati saya. Saya akan menghilangkan budaya malu yang telah muncul di tubuh anggota dewan dan menghidupkan budaya tidak malu di diri saya.

Keadaan lintasan ternyata sangat membuat kami letih. Saya dan ketiga guru saya beristirahat sejenak sebelum mereka melanjutkan tugasnya setibanya kami di sana. Miris sekali melihat keadaan di sana. Hanya memiliki 1 sekolah dasar dan satu posyandu (oleh-oleh dari anak KKN), setidaknya hanya itulah fasilitas kemasyarakatan yang saya lihat. Sangat jelas sekali berbeda dengan keadaan belajar-mengajar di sekolah saya. Walaupun begitu mereka tetap terlihat semangat mengikuti pelajaran yang diberikan guru-guru saya.

Kegiatan belajar-mengajar SMP terbuka ini dilakukan di gedung sekolah dasar. Kebanyakan dari mereka yang mengikuti SMP terbuka adalah mereka-mereka anak yang kurang beruntung dengan penghasilan pas-pasan yang dimiliki orang tuanya. Namun yang sangat disayangkan bukan seluruh dari mereka yang mengikuti SMP terbuka yang akan melanjut ke tingkat SMA. Mungkin dari 20 anak yang ikut hanya akan ada 1 yang melanjutkan pendidikannya. Hal ini terkait karena masalah dana dan masalah budaya mereka sendiri yang terbiasa dengan istilah kawin muda. Tidak bisa dipungkiri memang mereka yang mengikuti SMP terbuka bukanlah mereka pemuda pengangguran tapi mereka telah terbiasa bekerja untuk membantu kehidupan keluarga bahkan ada yang menjadi tulang punggung keluarga. Sangat tidak mungkin tentunya untuk meninggalkan pekerjaannya untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMA yang ada di Kecamatan Gelumbang.

Sedikit berbincang dengan orang-orang tua di sana, mereka mengatakan bahwa dulu di sini adalah tempat yang ramai tepatnya sebelum ada akses darat (mobil) menuju Kota Palembang. Memang dulu perdagangan karet (komoditas tertinggi di sini) menggunakan akses perairan untuk menuju Kota Palembang. Akan tetapi hal ini mulai di tinggalkan seiring dengan perkembangan zaman. Dan akibatnya hanya mereka anak-anak beruntung yang memiliki orang tua mampu, yang bisa melanjutkan sekolah di sekolah formal bukan sekolah terbuka.

Bukan tanpa hambatan, bagi mereka yang mampu melanjutkan sekolah di luar (di kecamatan Gelumbang). Akses jalan yang cukup memprihatinkan menjadi hambatan tersendiri. Bertahun-tahun mereka meminta bantuan perbaikan jalan namun belum ada realisasi nyata. “DPD demi DPD berganti namun belum ada yang memperhatikan kami,” ucap salah seorang tetua di sana. Akibatnya sangat terasa sekali jalanan batu krikil yang masih dikelilingi hutan, sangat menguras tenaga terlebih bagi mereka yang ingin keluar ingin mencari pendidikan yang lebih layak.

Jelas sekali, di sini seharusnya ada perbaikan baik infrastruktur ataupun suprastruktur desa.

Andai saya menjadi Anggota DPD RI, terbesit di hati saya. Saya akan menghilangkan budaya malu yang telah muncul di tubuh anggota dewan dan menghidupkan budaya tidak malu di diri saya. Saya akan mendatangi mereka-mereka yang ada di pelosok daerah yang saya wakilkan, karena saya adalah nafas mereka. Bukan dengan menggunakan pakaian mewah dan mobil mewah. Saya akan menggunakan pakaian seadanya dan mengayuh sepedah ontel untuk belajar dan merasakan betapa kerasnya kehidupan yang mereka hadapi. Karena mereka adalah inspirasi andai saya menjadi Anggota DPD RI.

One Response to “Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI”
  1. Ewa Kartins 15/12/2011
  2. Pingback: Ino Putro » Lomba Artikel DPD RI 07/12/2011

Leave a Reply