Manajemen Waktu—Solusi Pendidikan di Indonesia

inoputro(dot)com, manajemen waktu sebagai solusi pendidikan di Indonesia.

Apakah kita terlatih untuk menjadi agent of change (agen perubahan) di kampus?

Apakah kita terbiasa untuk berinisiatif untuk hal yang lebih baik saat studi di kampus?

Apakah kemandirian dan keberanian dalam mengkritisi pembangunan yang dirasa tidak berjalan dengan baik terasah di kampus?

Tiga pertanyaan ini mampu menyingkap apa yang sebenarnya terjadi pada sistem  pendidikan indonesia. Semasa di sekolah maupun di kampus, kita tidak begitu terlatih untuk menjadi agent of change yang seutuhnya. Sikap tersebut sangatlah dibutuhkan untuk membantu pemerintah menciptakan pembangunan yang efektif dan efisien. Seringkali yang terjadi, mahasiswa memanfaatkan situasi yang ada untuk membuat benteng kemapanan dan menargetkan diri untuk hanya mengejar nilai yang bagus, agar ketika lulus bisa dengan mudah mencari pekerjaan yang layak.

Masalah budaya waktu memang menjadi alasan utama keberhasilan suatu Negara menuju kemakmuran. Penggunaan waktu yang tidak efisien akan berakibat pada kerusakan di berbagai aspek kehidupan. Jika masalah budaya waktu ini tidak segera diselesaikan, ini akan berdampak pada terlambatnya suatu Negara menuju kemakmuran.”

Satu hal yang menarik yang bisa disimpulkan dari roda perputaran kampus adalah tidak adanya manajemen waktu yang tepat. Dari hasil survey, mahasiswa yang menyelesaikan kuliah tepat waktu termasuk dalam jumlah prosentase yang sedikit. Kegagalan pendidikan indonesia dalam menciptakan generasi unggul bisa terlihat dari kurang berkembangnya sektor kelautan dan pertanian dengan kompetensi dan wawasan yang memadai. Padahal dua sektor ini yang menyebabkan Indonesia dikenal sebagai Negara Agraris dan Maritim. Namun sayangnya dua hal ini terabaikan sama sekali.

Menanggapi fakta budaya indonesia tersebut, banyak pakar yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa kegagalan ini berasal dari sistem yang terpuruk, tidak adanya kemampuan leadership dan kualitas moral yang menurun. Bahkan ahli social mengakui bahwa Indonesia merupakan Negara yang lemah (soft nation and state). Jika dianalisis lebih mendalam, ini terjadi karena kurangnya kepekaan dan ketidakdisiplinan masyarakat terhadap efisiensi waktu.

Pada dasarnya, latar budaya merupakan akar dari berbagai aspek kehidupan yang meliputi teknologi, sosial, politik dan ekonomi. Merunut dari pernyataan ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa faktor penting yang membuat suatu Negara bisa mencapai kemakmuran adalah manajemen waktu. Beberapa Negara maju seperti Amerika, Inggris, Jepang, Perancis dan Australia bisa dijadikan acuan untuk penghargaan akan efisiensi waktu.

Masalah budaya waktu memang menjadi alasan utama keberhasilan suatu Negara menuju kemakmuran. Penggunaan waktu yang tidak efisien akan berakibat pada kerusakan di berbagai aspek kehidupan. Jika masalah budaya waktu ini tidak segera diselesaikan, ini akan berdampak pada terlambatnya suatu Negara menuju kemakmuran.

Apabila dipandang dari sudut manajemen, waktu merupakan alasan utama untuk sukses. Sebagai contoh dibidang media, ada banyak sekali jargon yang dijual oleh para pengelola media untuk menarik perhatian pengunjung. Mereka berani mengatakan bahwa informasi yang mereka sajikan adalah paling terkini. Mereka berlomba untuk menjadi tercepat dalam menyajikan informasi terkini karena peminat berita akan lebih tertarik pada jenis sajian yang paling terkini meskipun belum tentu akurat. Dengan mengetahui hal terkini, mereka sudah merasa terpuaskan. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya manajemen waktu untuk memajukan macam budaya bangsa dan mengantarnya menuju kemakmuran.

Bagaimana menurut anda???

 

Indahnya dunia ketika kita dapat saling berbagi.

One Response to “Manajemen Waktu—Solusi Pendidikan di Indonesia”
  1. Raul 13/06/2011

Leave a Reply