Menuju Budaya Modernisasi Positif

inoputro(dot)com, budaya modernisasi positif untuk menumbuhkan inovasi anak bangsa menuju kemandirian nasional.

Sehabis makan sebelum mandi dan selagi beraktifitas. Seorang remaja tengah menikmati week end-nya. Berjalan *gidig-gidig menuju sebuah warnet langgananya.

“kosong kak?”, tanya dia pada kakak penunggu warnet.

“PC 5 Masbro, yang ujung”, jawab kakak penunggu warnet.

Tanggal 21 Mei kemarin seharusnya dapat menjadi titik tolak budaya modernisasi bangsa kita ke arah yang lebih positif. Dengan mempelajari dari sejarah kebangkitan nasional bangsa kita seharusnya dapat menjadi cambuk bagi kita para remaja untuk menunjukan ‘inovasi anak bangsa menuju kemandirian nasional.’ Menunjukan besarnya potensi yang ada pada bangsa kita, bangsa Indonesia.”

“wokeh”, dengan semangat 45 remaja tersebut menuju tempat yang telah dinanti-nanti. Benar saja, pengunjung warnet seakan meledak karena warnet seberang lagi main tenis (maintenance red.). Yah kali ini harus berdesak-desakan ngantri dengan yang lain karena kuota modem habis. Tapi demi blognya tercinta apalah arti semua itu.

“hey can, sedang apa? Main game lagi ya?” sapanya ketika mengetahui ternyata orang di sebelahnya adalah ican, temannya.
“hha iya mas, mau naikin level lagi”
“wah rajin banget tiap hari main game ginian”
“yah namanya juga hobi”
“hha dia bilang hobi. Dari pada mikir mecahin game orang lain, kenapa gak mikir untuk membuat game sendiri”
ican sang gamers pun hanya tersenyum kalah.
“kalo penerus bangsa seperti ini, bagaimana nasib bangsa ini kedepannya.” Gumamnya dalam hati.

Seakan teringat sesuatu. Dia kemudian mengambil secarik kertas print out di sakunya yang berjudul besarkan ‘Compfest 2011’, Lalu memberikannya kepada Ican.

“nih, mungkin bisa berguna”
“apa ni mas?”
“baca saja”

. . . .

Compfest 2011?

Ya, sebuah festival tingkat nasional yang diadakan oleh anak-anak dari Fasilkom UI. Tentunya merupakan sebuah bentuk kepedulian sekelompok remaja akan pentingnya suatu perkembangan ke arah yang positif pada dunia komputer. Demi terciptanya tatanan budaya Indonesia yang baik menuju arah modernisasi.

. . . .

Di atas adalah sepenggal cerita yang menggambarkan bagaimana keadaan bangsa Indonesia umumnya dan remaja Indonesia khususnya. Kebanggaan menggunakan produk orang lain seakan telah terbudaya. Budaya ini menjadikan bangsa kita sebagai salah satu pangsa pemasaran terbesar di ASEAN bahkan Asia. Kenapa demikian? Kenapa kita tidak mengembangkan produk kita sendiri? Pertanyaan tersebut dapat kita jawab dengan mengintrospeksi diri kita masing-masing dan jawaban pertanyaan terakhir adalah milik kita. Karena kita adalah ‘agent of change’ yang akan menentukan sendiri nasib bangsa kita.

Modernisasi sendiri merupakan sebuah budaya baru yang terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka semakin dituntut pula perubahan budaya tradisional menuju budaya modernisasi untuk tetap dianggap oleh dunia luar. Tentunya tanpa menghapuskan budaya asli atau identitas suatu bangsa.

Dewasa kini, bangsa kita adalah bangsa besar yang telah cukup mendapatkan perhatian besar oleh dunia luar. Akan tetapi budaya modernisasi yang ada seakan menjadi bom waktu bagi bangsa yang besar ini. Kita seakan ikut kepada arus yang diciptakan oleh negara-negara adidaya dengan masuknya barang-barang impor yang semakin memanjakan kita. Yang tentunya tidak akan membuat bangsa kita menjadi lebih besar dari bangsa yang lain. Dan di sinilah diperlukan inovasi-inovasi anak bangsa untuk merubah alur modernisasi kita ke arah yang lebih baik lagi.

Seperti yang disebutkan oleh H.A.R. Tilaar dalam bukunya ‘Standarisasi Pendidikan Nasional‘, (2004:5), bahwa ditengah keterpurukan pendidikan nasional ternyata masih banyak bakat-bakat tersembunyi yang ada pada anak bangsa. Benar saja beberapa diantaranya seperti anak SMP yang mampu membuat antivirus artav (Arival-Taufik), siswa SMA yang mampu membuat software Virtual Doctor diyakini dapat menggantikan peran seorang dokter (M Ironnanda Kurnia Jabbar-Dirgantara Reksa Ginanjar) dan masih banyak lagi lainnya. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya jika digali maka pasti akan ditemukan bakat-bakat baru yang seharusnya patut untuk diakui secara nasional bahkan dunia.

Tanggal 21 Mei kemarin seharusnya dapat menjadi titik tolak budaya modernisasi bangsa kita ke arah yang lebih positif. Semangat nasionalis pendiri bangsa harusnya melekat pada generasi muda. Dengan mempelajari dari sejarah kebangkitan nasional bangsa kita seharusnya dapat menjadi cambuk bagi kita para remaja untuk menunjukan ‘inovasi anak bangsa menuju kemandirian nasional.’ Menunjukan besarnya potensi yang ada pada bangsa kita, bangsa Indonesia.

Terlepas dari bagaimana negara memfasilitasi kita. Kita tunjukan bahwa anak bangsa ‘bisa‘, bisa membangun kebangkitan nasional baru demi mengangkat derajat kita yang semakin terpuruk. Kita tanamkan suatu nilai baru kepada dunia Internasional, ‘kuantitas yang berarti kualitas.’ Kita mulai dari hal-hal kecil bermanfaat yang mungkin dianggap sepele. Demi terciptanya budaya modernisasi kearah yang lebih baik.

Kenapa kita bisa? Karena kita ‘Anak Indonesia‘.

 

Indahnya dunia ketika kita dapat saling berbagi.


Pernah menuliskan salah satunya?

Cerpenbudayabangsa (1), 

34 Responses to “Menuju Budaya Modernisasi Positif”
  1. yoedha 22/06/2011
  2. Nurcahyaku2.co.cc 21/06/2011
  3. portal gratis 19/06/2011
  4. glo 19/06/2011

Leave a Reply